Kekuasaan yang Melayani

Kata “politik” boleh saja dilekatkan dengan beragam definisi yang berbeda, tergantung pernyataan ahli mana yang dipakai. Yang pasti, tak ada yang protes saat dikatakan bahwa politik adalah seni atau ilmu tentang kekuasaan.

Politik adalah soal kekuasaan dan tujuan orang berpolitik tak lain untuk berkuasa. Pertanyaannya, apakah salah bila politik digeluti dengan tujuan memiliki kekuasaan? Kekuasaan tidak pernah salah, yang salah adalah bagaimana manusia atau sang pelaku politik mengimplementasikan kekuasaan itu sendiri. Jadi, tidak ada yang salah dengan mimpi berkuasa.

Justru keliru bila ada orang yang berpolitik tanpa punya mimpi apapun. Orang yang seperti itu, menurut saya, hanya pencari kerja alias job seeker di politik. Secara berkelakar, frater yang mengajar saya di sekolah dulu sempat berkisah tentang politikus 5D. Datang, Duduk, Diam, Dengar, Doi (Duit). Inilah politikus yang cuma datang rapat, diam tanpa perlu berkomentar apapun, hanya mendengarkan omongan orang lain, dan tetap menerima gaji atau uang rapat. Nah, akan seperti inilah jadinya orang-orang yang berpolitik tanpa punya mimpi apapun tadi.

Kembali ke soal politik, ada beberapa saluran yang bisa ditempuh dalam meraih kekuasaan tersebut. Berpolitik bisa dengan menjadi anggota legislatif, menjalankan pemerintahan sebagai eksekutif, hingga menjadi aktivis sekalipun merupakan bagian dari kegiatan politik.

Sebagai anggota legislatif misalnya, memiliki setidaknya tiga kekuasaan, yakni kekuasaan anggaran (hak bujet), kekuasaan pengawasan mengontrol pemerintah sebagai mitra kerjanya, serta kekuasaan untuk membuat legislasi alias undang-undang. Setiap hal yang disepakati oleh setidaknya 50+1 persen dari anggota DPR dan disetujui pemerintah akan menjadi undang-undang di negara ini.

Adapun yang lebih esensial dari kekuasaan itu adalah apa yang kita lakukan dengannya. Apakah si pemilik kekuasaan menggunakannya untuk kebaikan atau malah hal yang jahat? Sebagai politikus senior yang berkeyakinan Nasrani, saya menjawab pertanyaan ini dengan bercerita lewat patung Yesus Membasuh Kaki Murid. Salah satu patung ini saya simpan di kantor saya di bilangan Senayan, Jakarta. Patung ini menggambarkan filosofi yang paling tinggi dalam politik.

Dalam ajaran Kristiani, di dalam Alkitab Yesus menyampaikan bahwa barangsiapa yang mau menjadi besar, artinya menjadi pemimpin, hendaknya melayani saudara-saudaranya yang lain. Filosofi ini mengatakan, sebagai politisi hendaknya mau lebih dulu melayani orang lain bila hendak berkuasa.

Empat kali sudah saya terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur. Orang bertanya, “Bagaimana bisa empat kali terpilih, apakah karena kamu pengusaha?”

Memang betul saya pengusaha, tetapi rasanya bukan itu faktor utama yang membuat banyak orang bersedia memilih saya menjadi anggota DPR. Saya cenderung meyakini bahwa hal ini tak lepas dari prinsip pelayanan. Artinya, berkat yang saya miliki juga dipakai untuk menolong orang lain di daerah pemilihan saya.

Pertolongan yang kita berikan itu tak perlu digembar-gemborkan. Tuhan juga mengajarkan agar tangan kanan tak perlu tahu bila tangan kiri memberi. Percayalah, walau kita simpan rahasia itu serapat-rapatnya, orang yang kita tolong tadi akan menyampaikan ke orang lain.

Lantas bagaimana setelah mendapat kekuasaan politik lewat kepercayaan orang banyak? Kembali ke hal tadi, kekuasaan yang dimiliki itu digunakan untuk melayani orang lain. Kekuasaan membuat upaya melayani menjadi lebih mudah dilakukan. Tentu harus diingat juga bahwa melayani ini pun mesti dilakukan sesuai aturan ketatanegaraan yang ada.

Inilah melayani dalam kekuasaan politik. Inilah kekuasaan yang melayani. Dalam politik, saya meyakini bahwa kalau semua mau adu kekuatan pastilah hanya akan menciptakan kegaduhan. Tapi, kalau mau saling merendahkan mati dan melayani, bahkan lawan sekalipun akan tunduk.

Read More

Kejaksaan Agung Harus Tingkatkan Pengawasan Internal

Kejaksaan Republik Indonesia sebagai lembaga negara yang memiliki kewenangan dalam penegakan hukum di Indonesia dituntut untuk lebih berperan dalam menegakkan supremasi hukum, perlindungan kepentingan umum, penegakan hak asasi manusia, serta pemberantasan KKN.Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya,sebagaimana dijelaskan dalam UU No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan RI, juga mengisyaratkan bahwa lembaga Kejaksaan berada pada posisi sentral dengan peran strategis dalam pemantapan ketahanan bangsa.

Kejaksaan berada di poros dan menjadi filter antara proses penyidikan dan proses pemeriksaan di persidangan. Lembaga ini juga berperan sebagai pelaksana penetapan dan keputusan pengadilan sehingga Kejaksaan sebagai pengendali proses perkara (dominos litis)karena hanya institusi Kejaksaan yang dapat menentukan apakah suatu kasus dapat diajukan ke pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut hukum acara pidana

Dengan amanat kewenangan yang begitu besar, penting kiranya Kejaksaan untuk melakukan pengawasan internal yang obyektif, terukur, dan berkelanjutan. Dengan demikian, integritas seluruh garda terdepan Kejaksaan dapat menjadi jaminan bagi seluruh rakyat Indonesia akan tegaknya hukum di Republik Indonesia.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan adanya oknum jaksa yang terlibat dalam skandal suap dugaan kasus korupsi terkait kepengurusan fatwa untuk Saudara Djoko Tjandra di Mahkamah Agung. Komisi III DPR RI memberikan apresiasi kepada pihak Kejaksaan RI yang secara kooperatif dan konsisten dalam menegakkan hukum terhadap oknum jaksa dalam skandal tersebut yang saat ini sudah memasuki proses persidangan.

Kejaksaan RI harus memiliki strategi untuk senantiasa menjaga muruah lembaga dan melakukan pengawasan internal yang obyektif, terukur, dan berkelanjutan. Demi mendapat penjelasan terkait strategi inilah Komisi III DPR menggelar rapat bersama Jaksa Agung dan jajarannya secara virtual pada Kamis (24/9/2020).

Ada tiga kesimpulan yang kami dapatkan dari rapat kerja dan diskusi tersebut. Pertama, Komisi III DPR RI mendesak kembali Jaksa Agung untuk melakukan pengawasan internal yang lebih ketat terhadap perilaku dan kinerja jaksa dan sistem pembinaan karier. Jaksa Agung juga mesti mewujudkan reformasi birokrasi Kejaksaan secara terencana, transparan, dan akuntabel dalam rangka mewujudkan lembaga Kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum yang berkeadilan sekaligus memberikan kepastian hukum dan membawa manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kedua, Komisi III DPR RI meminta Jaksa Agung untuk terus meningkatkan peran Kejaksaan dalam penanganan perkara yang terkait dengan upaya optimalisasi penerimaan negara dan kesejahteraan masyarakat secara adil dan transparan. Komisi III DPR RI juga mendukung upaya Jaksa Agung terkait proses penegakan hukum melalui pendekatan keadilan restoratif dengan selalu memperhatikan aspe transparansi dan akuntabilitas perkara

Ketiga, Komisi III DPR RI mendesak Jaksa Agung untuk terus melakukan upaya penangkapan terhadap para buron tindak pidana yang berada di dalam dan luar negeri. Kejaksaan Agung juga harus meningkatkan upaya pengembalian dan pemulihan aset, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri, dengan cara melelang aset-aset negara untuk meningkatkan penerimaan negara, terutama yang terkait dengan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang dalam rangka akuntabilitas penegakan hukum dan penyelamatan keuangan negara

Read More

Memaknai Kegagalan

Gagal /ga-gal/ v. 1 tidak berhasil; tidak tercapai (maksudnya); 2 tidak jadi

Bila sekadar melihat keadaan saat ini, mungkin banyak orang yang mengira perjalanan hidup saya selalu diisi dengan cerita sukses. Status sebagai pengusaha sukses yang juga Ketua Komisi III DPR RI tentu menjadi alasan yang cukup layak di balik anggapan tersebut.

Padahal, tidak demikian adanya. Saya pun pernah mengalami kegagalan demi kegagalan. Sebagaimana saya sampaikan dalam perbincangan dengan Pendeta Gilbert Lumoindong bulan lalu, saya bisa jadi seperti hari ini justru karena pernah gagal.

Setiap kegagalan bisa mengakibatkan dua hal. Pertama, kegagalan dapat menghancurkan semangat juang. Kegagalan dapat menumbuhkan kekecewaan, termasuk kekecewaan kepada Tuhan. Pertanyaan “Mengapa saya gagal lagi dan gagal lagi” terus bergema di kepala.

Saya pun pernah mengalami kekecewaan serupa waktu gagal berkali-kali. Saya mengistilahkan perjalanan hidup kala itu seperti orang yang sedang naik tangga di mana butuh waktu tahunan untuk bisa menapak dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya. Namun, setelah menapak beberapa anak tangga, saya terjatuh ke titik awal.

Bayangkan kalau satu pekerjaan yang dirintis 5-10 tahun dan telah membawa kita ke tangga pertengahan. Namun, tiba-tiba kita jatuh dan turun lagi ke bawah, ke tangga paling awal. Perjalanan 5-10 tahun yang kita tempuh sebelumnya jadi seolah tak ada dan harus memulai segalanya kembali. Tidaklah gampang mengalami hal seperti itu dan bahkan lebih sulit lagi untuk bangkit.

Hari ini, saat saya sudah berada di tangga yang lumayan tinggi dan menengok kembali ke tangga-tangga tempat saya gagal, saya merenung dan melihat bahwa ternyata itulah cara Tuhan memasukkan dan memproses saya di dalam dapur api. Dalam proses itulah mental dan iman saya dibangun.

Lalu, apakah saya bisa bangkit karena kekuatan pribadi? Sama sekali tidak.

Tuhan membangun mental dan iman saya agar bisa berharap kepada-Nya dan mengandalkan-Nya dalam setiap langkah berikutnya. Setelah saya berharap dan mengandalkan Tuhan, baru saya digendong melewati tangga-tangga kegagalan tersebut dan diletakkan di tempat seperti sekarang.

Jadi, saya tidak bisa mengatakan semua yang saya rasakan saat ini adalah karena perjuangan, kehebatan, dan kemampuan saya semata. Justru saya berkali-kali gagal karena cuma mengandalkan itu semata. Yang membuat saya bisa seperti sekarang adalah karunia Allah.

Bagaimana saya bisa tahu itu? Jawabannya tak lain karena kegagalan-kegagalan itu sendiri. Saya merasakan benar bahwa saya baru digendong dan diletakkan di posisi atas setelah saya memiliki kekuatan iman dan paham akan arti penyertaan Tuhan. Saya sadar bahwa ada tangan tak terlihat yang menuntun dan menggendong saya.

Salah satu cerita kegagalan yang luar biasa saya alami saat Indonesia dilanda krisis moneter pada 1998. Ketika itu, saya menjalankan usaha di bidang impor eskalator, lift, hingga fire sprinkler atau alat pemadam api dari Jepang. Akibat melonjaknya kurs dolar terhadap rupiah, kala itu utang saya mencapai Rp 62 miliar rupiah. Bayangkan!

Demi membayar utang, saya menjual seluruh harta benda. Kalaupun waktu itu saya tidak menjual, semua barang tersebut pasti akan disita dan dilelang oleh bank. Saat itu, saya yang masih berusia 30-an tahun, memiliki istri dan seorang anak, tinggal di rumah yang bagus dan memiliki mobil harus merelakan semuanya hilang dalam sekejap mata.

Beban akibat kegagalan usaha itu masih bertambah dengan berbagai cercaan, bahkan tudingan, dari lingkungan sekitar. Belum lagi teror dari penagih utang yang sampai datang ke rumah hingga tetangga sekitar jadi tahu kondisi yang kita alami. Berat sekali. Dan jangan kira saya cuma mengalami hal seperti itu hanya saat krisis moneter 1998. Saya mengalami kegagalan seperti itu berkali-kali, lebih dari dua kali dalam hidup ini.

Namun, seperti saya katakan, adalah tangan Tuhan yang mengangkat saya dari kegagalan-kegagalan tersebut. Dia ternyata ingin membentuk saya lewat semua itu.

Sebagaimana saya sampaikan di atas, kegagalan dapat melumpuhkan semangat juang. Tetapi, kegagalan juga bisa mengakibatkan hal kedua, yakni justru menjadi lecutan yang luar biasa. Tapi, ini hanya dialami oleh orang yang bisa memaknai kegagalan tersebut dengan baik.

Read More

Bareskrim Harus Tuntaskan Indikasi Pidana Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung

Ketua Komisi III DPR RI Herman Herry berharap Bareskrim Polri melakukan penyelidikan lebih lanjut soal dugaan adanya tindak pidana di balik kebakaran gedung Kejaksaan Agung. Herman menyebut penyelidikan harus diteruskan dengan menetapkan pihak yang diduga terlibat bila memang indikasi itu benar adanya.

“Sebagai Ketua Komisi III DPR RI, saya tentu menyambut baik kemajuan yang dicapai Bareskrim Polri terkait penyelidikan serta pengungkapan terjadinya kebakaran gedung Kejaksaan Agung beberapa waktu lalu. Tentunya indikasi awal bahwa kebakaran ini mengarah ke peristiwa pidana harus diteruskan dengan menetapkan pihak-pihak yang diduga terlibat,” ujar Herman kepada wartawan, Kamis (17/9/2020).

“Selain itu, Bareskrim juga harus segera mengungkap apakah kebakaran tersebut disebabkan oleh kesengajaan atau kelalaian,” kata pria yang akrab disapa HH itu.

Herman juga mengingatkan bahwa penyelidikan kebakaran ini harus dilakukan secara tuntas mengingat besarnya perhatian masyarakat.

“Pihak kepolisian harus bekerja transparan dan profesional untuk mengungkap kebakaran gedung Kejaksaan Agung, terlebih kasus ini menjadi salah satu perhatian masyarakat,” kata Herman.

“Terkait fungsi pengawasan, kami di Komisi III DPR RI tentunya juga akan terus memantau perkembangan penyelidikan kebakaran ini,” ucapnya.

Sebelumnya, Bareskrim Polri menduga ada unsur pidana di balik kebakaran gedung Kejaksaan Agung beberapa waktu lalu. Walau demikian, Polri menyebut masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Dari beberapa temuan di TKP serta olah TKP oleh rekan-rekan Puslabfor menggunakan instrumen, serta pemeriksaan 131 saksi dan beberapa yang sedang, kemudian mendapatkan keterangan-keterangan yang kita butuhkan, maka peristiwa yang terjadi sementara penyidik berkesimpulan terdapat dugaan peristiwa pidana,” kata Kepala Bareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo di gedung Bareskrim, Jakarta, Kamis (17/9/2020)

Adapun kebakaran gedung Kejaksaan Agung terjadi pada Sabtu (22/8/2020). Asal api diduga dari lantai 6 yang kemudian menjalar ke seluruh gedung.

Read More

Bom Waktu di Tubuh Polri

Cara mengungkapkan rasa sayang bisa saja berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Ada yang menyampaikannya lewat hadiah, bunga, atau kalimat puitis nan indah.

Ada kalanya juga perhatian dan rasa sayang ini disampaikan lewat kritik dengan kalimat pedas yang membuat telinga menjadi merah. Namun jangan salah, terkadang kritik ini justru mengandung ketulusan yang luar biasa.

Hari Senin (14/9/2020), saya sebagai Ketua Komisi III DPR RI menghadiri rapat kerja bersama Kepolisian Republik Indonesia terkait Rencana Kerja dan Rencana Anggaran Tahun Anggaran 2021. Wakapolri Komjem Gatot Eddy Pramono hadir mewakili Polri dalam rapat kerja tersebut.

Dalam rapat tersebut, saya menyoroti kondisi di dalam tubuh Polri di mana sejumlah program tidak berjalan sebagaimana direncanakan atau semestinya. Banyak program yang sudah dibiayai dengan uang negara hingga miliaran, bahkan triliunan, yang mangkrak alias tidak berjalan, terutama di program IT dan sistem komunikasi.

Polri harus melakukan evaluasi secara profesional terkait hal ini. Evaluasi dan inspeksi mana program yang berjalan dan mana pula yang tidak. Bentuk satgas untuk melihat kondisinya dan semua ini harus dilakukan secara fair alias jujur.

Sepanjang berkarier di Komisi III DPR RI, bukan hanya sekali atau dua kali saya melihat kondisi semacam ini. Kekeliruan di satu tahun tertentu ditutup dengan anggaran pada tahun berikut dan berikutnya lagi.

Pernah juga saya melihat sejumlah program yang hanya berbeda dari segi judul atau namanya saja. Namun, sistem, barang, bahkan malah orang-orangnya ternyata sama saja.

Dalam raker tersebut secara tegas saya sampaikan bahwa hal ini bisa menjadi bom waktu bagi Polri. Saya merasa perlu menyampaikan hal ini karena kita semua perhatian dan sayang kepada Polri.

Jangan sampai institusi Polri rusak hanya karena ulah satu atau dua pribadi di dalam Polri semata. Institusi ini masih panjang. Negara ini betul-betul mengandalkan institusi Polri dan rakyat berharap betul pada Polri

Cara untuk lebih profesional adalah Polri harus berani melakukan koreksi atas program yang mangkrak alias tidak jalan. Kami sebagai Komisi III DPR RI minta komitmen pimpinan Polri ke depan untuk melakukan evaluasi.

Bisa, Polri? Pasti bisa!

Read More